Ini salah satu kebiasaan Al Banna yang mungkin jarang dilakukan para ayah. Beliau memberi bantuan dan pemeliharaan serta perhatian kepada anak-anak hingga dalam tingkatan menjadikan mereka merasa bahwa mereka selalu dalam kondisi penuh perhatian dari orang tua. Jika seorang anak merasa bahwa dirinya adalah nomor satu dalam hati orang tuanya, ini adalah modal utama keberhasilan dalam mendidik mereka. Tentang perhatian Imam Hasan Al Banna terhadap anak-anaknya dan bagaimana pemeliharaan Al Banna diceritakan oleh Saiful Islam :
“Aku tidak melebihkan dan tidak berlebih-lebihan dalam masalah ini, ketika aku sebutkan bahwa ayah adalah pemimpin rumah tangga ideal. Sejak aku masih kecil dan masih kanak-kanak aku belum pernah merasakan ayah kurang memperhatikan kami atau kurang memikirkan masalah kami. Kami justru takjub ketika kami merasa bahwa kami sendiri saat ini belum bisa mencapai seperti yang dilakukan ayah kepada kami.”
Berkata Ir. Roja Hasan Al Banna, “Aku ingat, ayah-semoga Allah merahmatinya- biasa membawakan makan pagi ke sekolah taman kanak-kanak, ketika usiaku masih lima tahun. Itu karena perhatiannya kepadaku begitu besar agar aku bisa makan pagi. Ketika itu aku memang sering lupa membawa roti untuk makan pagi ke sekolah, atau mungkin pula makananku diambil oleh teman-teman di sekolah. Ayah sangat berusaha untuk membawakan makan pagi itu setiap hari ke sekolah meskipun aku tahu kesibukannya luar biasa. Tapi beliau tetap tidak melupakan kami...”
Efek dari sikap itu adalah kecintaan dan keterikatan sangat kuat antara anak-anaknya kepada Hasan Al Banna. Roja menambahkan, “Kami sangat mencintai ayah...sangat cinta. Kami mentaati keinginannya karena kami cinta kepadanya, bukan karena kami takut padanya. Sampai jika ayah pergi, kami semua sangat merasa kehilangan. Aku ingat ketika saudaraku Roja menghubungi para ikhwan di kantor pusat Al Ikhwan untuk bertanya tentang Ustadz Iwadh Abdul Karim tentang kabar ayah yang sedang melakukan perjalanan dakwah.”