#navbar-iframe{opacity:0.0;filter:alpha(Opacity=0)} #navbar-iframe:hover{opacity:1.0;filter:alpha(Opacity=100, FinishedOpacity=100)}

Rasul SAW Bersadba: “Yang Menyakiti Fatimah Berarti Menyakitiku”


Definisi yatim itu ada dua: Yatim karena kehilangan sosok ayah secara fisik dan yatim karena kehilangan sosok ayah secara makna. Definisi yatim yang kedua ini dirasakan saat seorang ayah  tetap ada di antara anak-anaknya, namun mereka tidak mendapatkan pendidikan darinya dan tidak memperoleh hak pengarahan serta kasih sayang yang semestinya dilakukan oleh seorang ayah.
Hasan Al Banna selalu berupaya menyemangati hati anak, menenangkannya, mencerahkan pikirannya, menyisipkan kebahagiaan dalam hati mereka. Itulah sebagian dari kewajiban seorang murabbi yang sukses. Masa kanak-kanak adalah masa yang tidak terbebani, tidak boleh hak ini dipecahkan dari jiwanya, dan tidak boleh ada kesedihan yang mendominasi hatinya. Ayah yang sukses adalah yang selalu menghapus air mata anaknya dan mengusir kesedihan dalam hati anaknya. Rasulullah SAW bersabda, “Fathimah adalah separuh dari diriku. Siapa yang menyakiti hatinya berarti ia telah menyakiti aku.” Karena itulah, Imam Al Banna rahimahullah sangat memelihara jangan sampai ada salah seorang anaknya yang mengalami kesedihan dan jiwanya sakit. Itulah sentimen seorang ayah yang begitu dalam. Dan inilah yang tertanam baik dalam jiwa anak-anaknya, sehingga meledakkan kecintaan dan komitmen yang kuat dengan ayahnya lalu mendorong sikap untuk benar-benar mengikuti jalan yang ditempuh ayah mereka. Berbeda dengan orang tua yang justru memunculkan kesedihan dan rasa sakit di dalam jiwa anak-anaknya, efeknya adalah perasaan keras dan kesenjangan yang sangat jauh antara mereka.
Tsana mengatakan, “Ayah sangat peduli dan tidak mau melihat perasaan kami terluka. Dalam sebuah perjalanan yang direncanakan oleh kakek untuk berkunjung ke kota kami dan menghadiri resepsi pernikahan. Sementara ayah sudah menetapkan agar kami menemani nenek. Aku, Saif dan Wafa mendengar informasi saat perjalanan bahwa nenek sudah menyiapkan gerobak penuh hadiah sampai penuh. Lalu nenek memutuskan hanya ditemani Saif dan Wafa saja, tanpa kesertaan aku. Ketika itu ayah mengajakku dan menggendongku lalu mengatakan kepadaku, “Tak apa ya Tsana.....” Ayah lalu memberiku uang sebanyak 25 qirsy yang waktu itu sangat banyak nilainya. Tapi meskipun demikian aku tetap sedih. Sedangkan di tanganku ada tas berisi pakaian yang kemudian dibawakan oleh ayah.