Anak Al Banna, yang bernama Tsana, menyebutkan sejumlah sikap yang diinginkan neneknya (ibunda Al Banna) dalam memilihkan istri untuk Al Banna. Dikatakannya, “Nenekku rahimahullah pergi ke sejumlah rumah dari tokoh-tokoh Ismailiyah. Ketika itu nenek simpatik dengan ibuku untuk dijodohkan dengan ayahku, karena nenek melihat meskipun kondisi keluarga ibuku sangat sederhana tapi mereka mandiri melakukan kebutuhannya bahkan mereka juga memasak untuk para pekerja yang ada. Nenek lalu merasakan bahwa rumah keluarga ibuku adalah rumah orang yang dermawan dan baik hati. Meskipun belum ada kesempatan untuk belajar, tetapi kakekku mendatangkan seorang syaikh yang membacakan Al Qur’an setiap hari di rumah. Lalu suatu ketika, setelah zuhur, syaikh mengaji ini mengajarkan Al Qur’an untuk penghuni rumah yang perempuan dan mengajarkan fiqh. Karena itulah ibuku bisa dikatakan orang yang cukup pandai tentang masalah fiqih. Orang tuaku telah memilihkan istri yang baik dari tempat yang baik.....”
Selanjutnya Tsana juga bertutur tentang kecintaan kakeknya kepada ibundanya dan bagaimana perhatian yang diberikan kepada kasih sayangnya dengan ayahnya (Hasan Al Banna). Tsana mengatakan: ”Kakek dari ibuku sangat menyukai ayahku. Ia kerap berdiskusi dalam berbagai masalah sampai-sampai ketika ibuku ada yang ingin meminangnya selain ayahu ketika itu, ia datang kepada kakekku dan memintanya untuk menemani pula puterinya ke bioskop, kakekku bertanya kepada ayahku tentang hukumnya menonton film di bioskop. Ayahku menerangkan bahwa itu haram. Setelah kakek mengetahui orang tersebut meminta sesuatu yang dilarang maka kakek meminta orang itu pergi dan mengatakan “Aku tidak punya puteri untuk dinikahkan olehmu”